Minggu, 23 November 2008

Jenasah Korban Tsunami Aceh Berbau Harum

Mayat-mayat itu seperti tak ada habisnya. Setelah 45 hari pascabencana tsunami, sedikitnya sudah 112.000 mayat yang sudah ditemukan dan dikuburkan. Namun, proses pencarian mayat masih berlanjut


Diperkirakan, mayat yang berada di bawah reruntuhan, gedung, rumah, maupun terendam di rawa-rawa dan belum terevakuasi, jumlahnya masih banyak.

Harus diakui, proses evakuasi mayat merupakan pekerjaan yang cukup berat. Selain jumlahnya demikian banyak, medan yang harus dilalui para relawan juga sangat berat. Bisa dikatakan, tingkat kesulitan yang dihadapi relawan mengevakuasi mayat tak ada bedanya antara hari pertama pascabencana dengan hari ke-45. Serbasulit dan penuh risiko.

Sebagian besar, mayat-mayat berada di bawah reruntuhan bangunan yang ambruk total. Akibatnya, para pemburu mayat mesti mengangkat satu per satu puing-puing yang menutup mayat. Kecuali kalau ada alat berat, pekerjaan evakuasi bisa lebih mudah. Namun, karena jumlah alat berat sangat terbatas, para relawan pun tak terlalu banyak berharap dari alat tersebut. Mereka bekerja secara manual, dengan tangan-tangan mereka.

Satu hal yang patut diberi penghargaan, para relawan seperti tak kenal lelah mengevakuasi mayat. Setiap hari mereka mencari, mengais-ngais di antara reruntuhan, untuk kemudian mengangkat dan menguburkan mayat-mayat tersebut di tempat yang sudah disediakan. Mereka tak dibayar. Bahkan mereka datang ke Aceh dengan ongkos sendiri dan setiap hari makan dengan uang sendiri.

Di antara kelompok pemburu mayat yang paling menonjol, selain Satkorlak Nasional adalah Front Pembela Islam (FPI). Sejak bencana terjadi, FPI telah menurunkan lebih dari 1.300 anggotanya. Saat ini secara bergiliran mereka masih bertugas mencari mayat. Rata-rata setiap hari ada 600 anggota FPI bertugas untuk mencari mayat, tersebar di berbagai daerah bencana di Aceh. Setiap harinya, mereka masih bisa menemukan 100 hingga 300 mayat. Seperti pada Rabu (2/2), FPI menemukan 130 mayat yang tertimbun dalam sebuah ruko di Kedah, Banda Aceh. Mayat-mayat itu sudah hancur, karena lama tertimbun di reruntuhan rumah. Untuk bisa mendapatkan mayat sebanyak itu, mereka harus bekerja selama tiga jam lebih.

Sekjen FPI, Husni Harahap, kepada “PR” mengemukakan, FPI akan terus mencari mayat di Aceh. Menurutnya, mencari mayat lalu menguburnya adalah fardu kifayah. “Alasan kita terus mencari mayat, karena menyelesaikan jenazah hukumnya fardu kifayah. Kita yakin orang yang mati tenggelam adalah syahid. Kita tidak mau membiarkan orang mati syahid, dibiarkan begitu saja. Di Aceh ini masih banyak mayat dengan kondisi rusak, bahkan ada yang dimakan anjing. Itu tidak bisa kita biarkan, maka FPI terus berusaha mencari mayat-mayat di sini,” jelas Husni.

Hal lainnya, kata Husni, yang menjadi pertimbangan FPI terus mencari mayat adalah jika mayat-mayat berserakan tidak segera dievakuasi, dikhawatirkan akan memunculkan virus yang membahayakan orang yang masih hidup. Jika sampai virus-virus yang datang dari mayat itu muncul, orang yang sehat atau selamat, bisa terkena musibah lagi. FPI sendiri, lanjut Husni, tidak menghitung berapa mayat yang sudah mereka evakuasi. Biasanya, yang menghitung adalah petugas di bagian penguburan.

Husni mengakui, ada beberapa kejadian aneh dalam mengangkat mayat ini. Misalnya, ada anak buahnya saat malam tiba berteriak-teriak. Tapi, setelah itu mereka zikir bersama untuk menenangkan orang yang berteriak-teriak tadi. Setelah tenang, mereka pun bekerja kembali seperti biasa.

Bagi anggota FPI sendiri, menemukan mayat merupakan sebuah kebahagiaan sendiri. Makin banyak mayat ditemukan, makin gembiralah mereka. Sebaliknya, kedukaan sering muncul saat pulang dari lokasi bencana tanpa menemukan mayat satu pun. “Jadi, kadang kita menjadi sedih, misalkan dari pagi hingga siang tidak juga mendapatkan mayat. Kita sedih, seolah pekerjaan ini sia-sia. Sedihnya lagi, misalkan saja kita melihat ada mayat di tumpukan gedung, tapi ketika akan diambil, susah sekali,” ungkap komandan lapangan pencari mayat ini.

Kesedihan lain, ujar Husni, saat relawan akan mengangkat mayat, tiba-tiba mereka memegang tangannya, lalu copot begitu saja. “Aduh hati ini, terasa sedih,” katanya.

Pengalaman Heru, santri yang juga salah seorang relawan pemburu mayat anggota FPI asal Jakarta, lain lagi. Ia punya pengalaman yang membuatnya susah untuk dilupakan hingga sekarang. Saat mencari mayat memasuki minggu ketiga di daerah Lampeuk, Kec. Lhoknga, Kab. Aceh Besar, bersama rekan lainnya, mereka mengangkat mayat-mayat yang masih berserakan.

Namun, ketika itu Ia menemukan satu mayat yang ternyata masih utuh. Padahal, memasuki minggu ketiga mayat-mayat umumnya sudah rusak. Hal lain yang membuatnya benar-benar terkejut, mayat laki-laki yang diperkirakan masih berusia muda itu, menebarkan aroma harum. “Saat mengangkat mayat itu, kita semua tertegun. Biasanya, mayat-mayat yang lain saat diangkat baunya menusuk hidung. Tapi mayat yang satu ini, malah harum. Saya yakin Allah telah menjaga jenazah itu,” kenang Heru.

Relawan lain, Agus, mengaku punya pengalaman yang aneh selama mencari mayat. Suatu hari ia menemukan mayat bertubuh besar. Logisnya, mayat itu berat. Namun aneh, justru saat diangkat terasa ringan. Ia sempat berpandangan dengan rekan lain saat angkat mayat itu. Mereka juga mengaku mayat itu ringan sekali. “Apakah mungkin tertolong oleh amalannya yang banyak, sehingga mayatnya ringan,” katanya. Lain waktu Agus mendapatkan mayat bertubuh kurus, tapi beratnya bukan main.

Sejumlah pengalaman juga diungkapkan para relawan. Salah satunya diceritakan oleh Kurnia. Ia mengaku sering mimpi aneh setelah sehari sebelumnya mengangkat mayat. Ia pernah mengangkat mayat seorang ibu yang terjepit pohon. Setelah memotong pohon itu dengan susah payah, akhirnya mayat ini bisa diangkat. “Malamnya, saya bermimpi orang itu hadir. Dia tersenyum dan melambaikan tangannya. Sepertinya orang itu mengucapkan terima kasih,” paparnya.

Muhammad Iqbal relawan yang tergabung dalam Tim SAR Nasional, juga membeberkan pengalamannya. Muhammad Iqbal yang juga pegawai Dinas Perhubungan Pemprov Aceh ini, mengaku ada dua kejadian yang baginya sulit dilupakan. Kejadian pertama, saat mencari mayat di daerah Lhoknga, Aceh Besar. Saat memasuki hari ketiga bencana, ia mulai turun mencari mayat. Ia menemukan mayat ibu sedang memeluk anaknya, tertimbun pohon besar. Rambut anaknya, tergulung kawat, sedangkan kaki ibunya juga tergencet pohon.

Karena sulit, diputuskanlah kaki ibu itu dipotong. Sedangkan untuk mengevakuasi anaknya, dipotong pula rambutnya yang terbelit kawat. Setelah itu, mayat ibu dan anak itu dimasukkan ke dalam kantong mayat, berikut potongan kaki dan rambut anaknya. Mereka dimasukkan ke dalam satu kantong mayat. Kantong mayat itu pun dimasukkan ke dalam truk untuk dikirim ke tempat pemakaman missal. Sebelum dimakamkan, semua mayat biasanya difoto terlebih dahulu.

Yang membuat Muhammad Iqbal terperanjat, ketika kantong mayat berisi ibu dan anak itu dibuka, posisi kedua mayat itu seperti posisi pertama ditemukan oleh Tim SAR. Mereka berpelukan, seperti saat ditemukan. Lalu bagian kaki sang ibu yang dipotong, seperti terpasang lagi, alias menyambung. “Kita semua benar-benar terperanjat. Tapi itulah keagungan dari Yang Maha Kuasa,” kata Muhammad Iqbal yang juga harus kehilangan banyak keluarganya akibat bencana tsunami.

Pengalaman kedua, saat memasuki hari ke-27 pencarian mayat. Timnya masuk ke daerah Leupung Aceh Besar. Saat itu, ia mencari mayat di antara reruntuhan bangunan. Di daerah itu, yang diperkirakan sekira 12.000 orang meninggal karena tsunami, Iqbal menemukan sosok mayat seorang ustaz. Kepastian bahwa ia seorang ustaz diperoleh dari keterangan warga setempat yang selamat. Yang membuatnya takjub, ternyata mayat ustaz itu masih utuh. Padahal mayat itu sudah hampir sebulan tergeletak.

“Luar biasa sekali, karena dari sekian ribu mayat yang kita temukan setelah 20 hari bencana berlalu, mayat-mayat itu sudah membusuk dan hancur. Tapi ini, benar-benar utuh. Saya yakin, Allah telah menjaganya,” kata relawan yang pernah ikut latihan khusus SAR saat di Akedemi Perhubungan.

Kanda, relawan lainnya, mengaku punya pengalaman aneh, sekaligus menakjubkan. Pada hari kelima pascabencana, Kanda sudah terjun ke lapangan mencari mayat. Karena lokasi pencarian yang jauh, Kanda sempat berjalan kaki sejauh 4 km. Saat itu, kebetulan ia dan rekan-rekannya kehabisan bekal makanan dan minuman. Dalam kondisi normal, apalagi kondisi Aceh saat itu sangat terik, Kanda sudah terkena dehidrasi.

Yang membuatnya aneh, ketika sudah berjalan jauh dan kehausan, Kanda menemukan buah kelapa yang datang entah dari mana. Dari buah kelapa itulah, Kanda, Muhammad Iqbal, dan rekan-rekan relawan bisa menyegarkan dirinya. Mereka pun bisa berjalan lagi sepanjang 3 km. Mereka bisa kuat berjalan, padahal mereka saat itu sambil menggotong mayat yang sudah dievakuasi.

Para relawan pencari mayat memang patut diberi penghargaan. Tanpa mereka, sulit rasanya Aceh bisa seperti sekarang, relatif lebih bersih dan ribuan mayat sudah dikuburkan. Wajar pula jika Menko Kesra Alwi Sihab selaku wakil pemerintah yang bertanggung jawab langsung terhadap upaya pemulihan Aceh pascabencana, secara khusus memberi ucapan terima kasih kepada relawan yang bertugas mencari mayat. “Saya salut dan ucapkan terima kasih kepada para relawan,” kata Alwi saat ikut evakuasi mayat di Kedah, Kota Banda Aveh.(Undang Sudrajat/”pr”)

Sumber : Pikiran Rakyat

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Asslm wr wb
MAHA BESAR ALLAH DENGANG SEGALA KEAGUNGAN NYA.....SUBHAN ALLAH...